Proses Perjalanan Hajiku
Di lereng Gunung Slamet yang sejuk, tepatnya di Dukuh Pring, Desa Begawat, kisah pengabdian hidup saya dan keluarga kecil saya mengakar. Nama saya Khapid, S.Ag., M.S.I. Saya adalah seorang guru honorer di SMPN 1 Bumijawa. Pada tahun 2005, saya memulai biduk rumah tangga bersama istri tercinta, Siti Saropah, S.PdI., yang akrab dipanggil Bu Guru Opah—seorang guru di SDN Begawat 02. Setelah menikah, kami memutuskan untuk pindah dari Dukuh Rawa menuju lingkungan baru di kampung Dukuh Pring. Di tempat baru inilah, kami membawa satu cita-cita suci yang terus menyala di tengah segala kesederhanaan kami. Niat untuk menunaikan ibadah haji bagi kami bukan sekadar keinginan biasa, melainkan sebuah amanah hati. Istri saya, Bu Guru Opah, selalu teringat pesan mendalam dari gurunya saat nyantri di Pondok Pesantren Al Asy'ariyah Wonosobo, yaitu Mbah Yai Muntaha atau yang akrab kami sapa Mbah Mun. Sang Kyai berpesan kepada para santrinya agar segera mengupayakan naik haji selagi raga masih kuat da...