Proses Perjalanan Hajiku


Di lereng Gunung Slamet yang sejuk, tepatnya di Dukuh Pring, Desa Begawat, kisah pengabdian hidup saya dan keluarga kecil saya mengakar. Nama saya Khapid, S.Ag., M.S.I. Saya adalah seorang guru honorer di SMPN 1 Bumijawa. Pada tahun 2005, saya memulai biduk rumah tangga bersama istri tercinta, Siti Saropah, S.PdI., yang akrab dipanggil Bu Guru Opah—seorang guru di SDN Begawat 02. Setelah menikah, kami memutuskan untuk pindah dari Dukuh Rawa menuju lingkungan baru di kampung Dukuh Pring. Di tempat baru inilah, kami membawa satu cita-cita suci yang terus menyala di tengah segala kesederhanaan kami.

Niat untuk menunaikan ibadah haji bagi kami bukan sekadar keinginan biasa, melainkan sebuah amanah hati. Istri saya, Bu Guru Opah, selalu teringat pesan mendalam dari gurunya saat nyantri di Pondok Pesantren Al Asy'ariyah Wonosobo, yaitu Mbah Yai Muntaha atau yang akrab kami sapa Mbah Mun. Sang Kyai berpesan kepada para santrinya agar segera mengupayakan naik haji selagi raga masih kuat dan usia masih muda. Nasihat itulah yang menjadi ruh bagi perjuangan kami. Kami menjadikannya sebuah komitmen kuat untuk mengetuk pintu langit melalui ikhtiar yang nyata.

Sejak tahun 2008, saya dan istri mulai menyisihkan setiap rupiah dengan penuh disiplin. Dari gaji guru honorer yang terbatas serta pendapatan lain yang kami terima, kami berkomitmen untuk menabung minimal Rp 500.000 setiap bulannya. Bagi kami, setiap lembar uang yang kami setorkan ke bank swasta di Bumijawa adalah bibit doa yang kami tanam dengan harapan besar kelak akan berbuah keberangkatan ke Baitullah.

Tiga tahun berselang, pada tahun 2011, tabungan yang kami kumpulkan akhirnya mencukupi untuk mendaftar haji dan mendapatkan nomor porsi. Namun, di dalam hati kecil, saya tidak ingin berangkat sendirian. Saya merasa kebahagiaan ini harus dirasakan pula oleh orang tua saya. Saya ingin momen suci ini menjadi ibadah keluarga yang utuh—sebuah bakti nyata saya sebagai seorang anak untuk membawa orang tua bersujud di tempat paling mulia di muka bumi.

Sebelum memutuskan hari untuk berangkat ke Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tegal, saya mendatangi kedua orang tua saya, Bapak Abdul Jalal dan Ibu Muryati. Secara ekonomi, keluarga mereka sebenarnya lebih mampu dibandingkan kerabat kami yang lain, namun kedua orang tua saya saat itu belum juga melaksanakan ibadah haji. Saya menyampaikan isi hati saya dengan takzim dan mengabarkan bahwa saya dan istri akan mendaftar haji karena dana kami sudah mencukupi.

Niatan dan kabar baik ini disambut dengan sangat bahagia oleh kedua orang tua saya. Pada momen itulah, saya mengajak mereka untuk memantapkan niat dan mendaftar bersama-sama. Saya datang bukan untuk membiayai mereka, melainkan untuk membakar semangat mereka agar Bapak Abdul Jalal dan Ibu Muryati segera mengambil langkah nyata. Saya ingin kami berempat mendaftar dalam waktu yang bersamaan agar kelak bisa berangkat dalam satu rombongan yang sama.

Bak gayung bersambut, ternyata Bapak Abdul Jalal dan Ibu Muryati juga memiliki simpanan rahasia yang sudah terkumpul. Dalam waktu singkat, kurang dari satu bulan, dana untuk daftar haji kedua orang tua saya pun genap. Dengan kemandirian finansial masing-masing, pada tahun 2011, kami berempat—saya, istri, Bapak Abdul Jalal, dan Ibu Muryati—resmi mendaftarkan porsi haji kami. Sebuah langkah besar yang membuat dada kami sesak oleh rasa syukur yang luar biasa.

Masa penantian yang panjang selama beberapa tahun tidak kami lewatkan dengan berdiam diri. Saya bersama istri dan kedua orang tua mempersiapkan diri dengan matang, termasuk mengikuti Manasik Haji secara intensif selama setahun penuh. Karena usia saya yang masih muda dan dianggap memiliki semangat yang tinggi, saya dipercaya menjadi Ketua Rombongan atau Khadimul Haramain untuk melayani jamaah dari KBIH Miftahul Atfal Bumijawa. Saya mempelajari setiap detail manasik dengan serius agar dapat membimbing orang tua saya, istri saya, serta seluruh jamaah dengan sepenuh hati dan penuh tanggung jawab.

Hari yang kami nanti-nantikan akhirnya tiba. Suasana pelepasan di teras rumah yang berpilar biru di Begawat terasa sangat emosional dan penuh keharuan. Kedua orang tua saya mengadakan acara pelepasan bersama keluarga dekat dan masyarakat sekitar dengan suasana yang begitu khusyuk. Sementara itu, saya dan istri mengadakan acara pelepasan di kediaman kami sendiri di Dukuh Pring dengan sangat meriah.


Segenap jajaran PAC GP Ansor Kecamatan Bumijawa turut hadir meramaikan acara. Mereka datang untuk membersamai dan melepas saya, yang kebetulan diamanahi sebagai Ketua PAC GP Ansor Bumijawa. Dengan rasa haru, saya berdiri memegang mikrofon, menyampaikan kata pamit, permohonan maaf, serta meminta doa restu kepada seluruh warga yang hadir. Di samping saya, Bu Guru Opah berdiri dengan anggun mengenakan seragam batik haji bernuansa biru-hijau, siap mengawali perjalanan suci ini.

Doa-doa yang selama ini kami panjatkan di pelosok Desa Begawat akhirnya terjawab tunai di depan Ka'bah yang agung. Saya dan istri berdiri dengan air mata syukur yang tak membendung di pelataran Masjidil Haram yang megah. Cahaya lampu malam makkah menjadi saksi bisu atas mimpi kami yang kini telah mewujud nyata. Dari sisa-sisa gaji sebagai guru honorer, Allah SWT mengangkat derajat kami untuk menjadi tamu-Nya yang terhormat.


Kebahagiaan keluarga kami pun terasa paripurna. Senyuman saya, istri saya Siti Saropah, Bapak Abdul Jalal, dan Ibu Muryati tampak begitu lepas dan bahagia karena bisa beribadah bersama-sama di tanah suci Makkah. Kisah perjalanan kami dari Desa Begawat ini selalu mengingatkan saya bahwa niat yang tulus dan bakti yang ikhlas kepada orang tua akan selalu menemukan jalannya sendiri menuju pintu langit.

Comments

Popular posts from this blog

BAB TAJWID NUN SUKUN/TANWIN DAN MIM SUKUN